BREAKING NEWS

Review No Other Choice Film Komedi Gelap Park Chan-wook

Poster film No Other Choice karya sutradara Park Chan-wook menampilkan Lee Byung-hun dengan latar pohon pinus dan langit biru.

Selama puluhan tahun, nama Park Chan-wook (PCW) identik dengan sinema yang kelam, penuh darah, dan eksplorasi sisi gelap manusia yang sangat serius. Namun, di tahun 2025 ini, sang maestro memberikan kejutan besar lewat karya terbarunya bertajuk No Other Choice. Bukannya menyajikan thriller dingin yang mencekam, PCW justru membungkus kritik sosialnya dalam balutan black comedy (komedi gelap) yang segar sekaligus getir.

Pertarungan Sengit Antara Harga Diri dan Urusan Perut yang Menggelitik

Cerita berfokus pada sosok You Man-soo (diperankan dengan apik oleh Lee Byung-hun), seorang mantan manajer di perusahaan kertas yang harus menelan pil pahit karena terkena PHK. Hidup Man-soo seketika jungkir balik. Bayangkan saja, ia sampai di titik harus menunggak cicilan rumah, merelakan dua anjing kesayangan anaknya pergi, hingga memutus langganan Netflix demi menghemat pengeluaran.

Masalah utamanya bukan sekadar uang, tapi harga diri. Man-soo adalah "pemuja" dunia produksi kertas; ia merasa jiwanya ada di sana, sehingga ia merasa mustahil untuk banting setir ke bidang pekerjaan lain.

Rencana Gila Sang Pengangguran yang Putus Asa

Setelah tiga belas bulan luntang-lantung tanpa kepastian, secercah harapan muncul saat seorang teman menawarinya posisi di sebuah perusahaan kertas. Namun, jalannya tidak mudah. Man-soo sadar ia punya banyak saingan berat yang nasibnya sama-sama tragis akibat gelombang pailit di industri kertas.

Di sinilah insting bertahan hidup yang menyimpang mulai muncul. Muncul sebuah ide jahat di benak Man-soo: menyingkirkan semua pesaingnya satu per satu secara fisik agar ia menjadi kandidat tunggal. Tema pembunuhan berencana memang merupakan "makanan sehari-hari" dalam film Park Chan-wook, tapi kali ini eksekusinya benar-benar berbeda.

Perpaduan Akting Dingin Lee Byung-hun dan Gaya Visual PCW

Melihat Lee Byung-hun yang kita kenal sangat dingin sebagai Front Man di Squid Game bermain di film ini, awalnya kita mungkin berekspektasi akan melihat karakter pembunuh yang kejam. Namun nyatanya, PCW justru menampilkan Lee sebagai sosok yang kikuk dan penuh keraguan.

Gaya penyutradaraan PCW yang khas tetap hadir:

  • Kamera Dinamis: Jarang sekali kamera dibiarkan statis, memberikan kesan "hidup" pada setiap adegan.

  • Zoom In/Out: Penggunaan perbesaran gambar yang presisi justru menambah unsur komedi pada momen-momen yang seharusnya menegangkan.

  • Vibe Satir: Film ini terasa seperti "saudara jauh" dari Parasite karya Bong Joon-ho, di mana isu kelas pekerja dibahas dengan cara yang sarkastik.

Komedi di Tengah Upaya Pembunuhan yang Amburadul

Momen lucu dimulai saat Man-soo mencoba menghabisi salah satu saingannya, Choi Seon-chul (Park Hee-soon). Bukannya beraksi layaknya agen rahasia, Man-soo justru gemetar dan mendadak "insaf" karena merasa dirinya bukan orang jahat.

Tak kehilangan akal, ia merancang strategi yang lebih licik (dan sangat PCW banget): membuka lowongan kerja palsu. Tujuannya? Agar ia bisa mendapatkan portofolio dan detail pribadi para pesaing kuatnya untuk kemudian "dieliminasi" secara terukur.

Namun, realita tak seindah rencana. Saat mengintai Gu Bummo (Lee Sung-min), Man-soo malah mengalami kejadian konyol digigit ular dan justru ditolong oleh istri targetnya sendiri, Lee Ara (Yeom Hye-ran). Rasa simpati yang muncul di tengah rencana pembunuhan ini menciptakan dilema moral yang mengocok perut sekaligus menyedihkan.

Kritik Kapitalisme di Balik Tawa

Puncak dari film ini adalah sekuen pembunuhan Gu Bummo yang digarap secara jenius. Menggunakan teknik slow-motion yang mengingatkan kita pada gaya Bong Joon-ho, adegan ini penuh kejutan dan koreografi yang sangat teratur namun mengundang tawa.

Secara filosofis, Park Chan-wook ingin memotret betapa kejamnya sistem kapitalisme. Man-soo adalah produk dari lingkungan kerja yang kompetitif secara ekstrem, di mana seseorang harus menjadi "predator" demi bertahan hidup. Ia adalah pelaku kriminal, sekaligus korban dari sistem yang rusak.

Apakah Kemenangan Akhir Ini Hanyalah Sebuah Lelucon yang Tidak Adil

Menjelang akhir, film ini sempat sedikit keluar dari jalur realisme. Lewat plot twist yang sangat bergaya komedi, Man-soo justru keluar sebagai "pemenang" di atas segala kekacauan yang ia buat. Meski terasa kurang adil bagi penonton yang mengharapkan ganjaran moral, mungkin inilah potret dunia nyata yang ingin disampaikan sang sutradara.

No Other Choice (2025) membuktikan bahwa Park Chan-wook masih merupakan seorang auteur yang berani bereksperimen. Dengan skenario yang detail, sinematografi yang memukau, dan komedi yang menyerang tanpa henti, film ini menjadi salah satu pengalaman menonton paling lengkap dan berkesan di tahun ini.