BREAKING NEWS

Review Jujur Perempuan Tanah Jahanam Lebih Serem dari Pengabdi Setan?

Seorang wanita berdiri di gang sempit dengan dinding beton abu-abu yang rusak. Dia memiliki rambut hitam panjang, dan dia mengenakan jaket hitam dan tas bahu.

Halo sobat film! Balik lagi nih, kali ini kita mau bahas salah satu karya fenomenal dari "suhu" horor kita, Joko Anwar. Kalau ngomongin dia, emang nggak ada habisnya ya. Joko sama tim marketingnya itu emang paling jago bikin hype film jadi gila-gilaan.

Inget banget pas special screening Perempuan Tanah Jahanam (PTJ) di Flix Grand Galaxy Mall Bekasi sama Epicentrum XXI Jakarta tahun 2019 lalu. Ratusan penonton tumplek blek di sana sampai bioskop harus nambah jam tayang gara-gara satu studio nggak cukup. Antusiasmenya beneran gila!

Niat Cari Warisan Malah Ketemu Kutukan

Film ini fokus ke dua sahabat, Maya (Tara Basro) dan Dini (Marissa Anita). Awalnya mereka ini cuma penjaga pintu tol yang nasibnya kurang beruntung. Ada satu kejadian horor pas Maya lagi kerja yang bikin dia mutusin buat berhenti. Karena sekarang gerbang tol sudah pakai mesin, mereka akhirnya coba jualan baju di pasar, tapi ya namanya hidup, dagangannya malah sepi banget.

Pas lagi pusing mikirin cara bertahan hidup, Maya nemu foto lama keluarganya. Di foto itu, Maya kecil berdiri di depan rumah gede banget di sebuah tempat bernama Desa Harjosari. Berharap bisa jual rumah itu buat modal usaha, mereka berdua nekat berangkat ke desa terpencil yang bahkan orang sekitar pun jarang ada yang tahu lokasinya.

Atmosfer Desa Harjosari yang Bikin Merinding

Pas sampai di sana, mereka nyamar jadi mahasiswi yang lagi riset budaya. Tapi bukannya dapet sambutan anget, mereka malah ngerasa ada yang aneh sama desa itu. Bayangin aja, tiap hari ada pemakaman bayi, penduduknya dingin banget, dan gelagat Ki Saptadi (Ario Bayu) sebagai kepala desa juga misterius banget.

Jujur, Joko Anwar sukses banget bangun suasana Desa Harjosari jadi tempat yang suram. Rumah-rumah tua tanpa listrik dan tatapan penduduk yang kosong beneran bikin atmosfer film ini mencekam. Kalau kamu penikmat karya Joko Anwar yang dulu, atmosfer PTJ ini sedikit ngingetin kita sama Pintu Terlarang.

Di film Pintu Terlarang, kita dibuat nggak nyaman sama rahasia gila di balik pintu rahasia dan obsesi karakter utamanya. Nah, di PTJ ini, rasa nggak nyaman itu pindah ke "tradisi" desa yang sakit dan bikin mual. Dua-duanya sama-sama nunjukin kalau horor terbaik Joko Anwar itu bukan cuma soal jumpscare, tapi soal cerita yang disturbing dan bikin kepikiran sampai susah tidur.

Kenapa Film Ini Terasa Berbeda?

Meskipun akting Tara Basro, Marissa Anita, sampai legendarisnya Christine Hakim itu jempolan banget, ada beberapa hal yang bikin aku ngerasa film ini nggak "se-ngena" Pengabdi Setan.

  • Pembangunan Karakter: Di Pengabdi Setan atau Gundala, kita gampang banget empati sama karakternya karena ada elemen keluarga atau anak kecil. Di PTJ, perkenalannya kerasa agak buru-buru, jadi pas Maya kena masalah, aku pribadi ngerasa kurang emosional.

  • Pemilihan Pemain: Aku ngerasa Ario Bayu sebagai Ki Saptadi agak kurang pas secara usia. Di film ini dia kelihatan terlalu muda buat jadi sosok kepala desa yang seharusnya berwibawa banget, meskipun aktingnya tetep keren sih.

  • Plot Twist: Ada kejutan di akhir film, tapi menurutku malah bikin ceritanya jadi agak ruwet dan muter-muter.

Sadis Iya, Menakutkan?

Banyak yang bilang Perempuan Tanah Jahanam lebih serem dari Pengabdi Setan. Tapi buat aku? Hmm, kayaknya nggak. Film ini emang sadis banget dan sangat mengganggu (disturbing), tapi kalau soal bikin bulu kuduk berdiri terus-terusan, Pengabdi Setan masih megang tahta.

PTJ lebih cocok buat kamu yang suka horor dengan sentuhan gore dan cerita yang "sakit" mirip-mirip Pintu Terlarang. Joko Anwar emang pinter bikin standar horor yang tinggi, sampai-sampai dia sendiri pun harus kerja keras buat ngelewatin standarnya itu.

Kalau menurut kalian gimana? Lebih serem Maya di desa atau Ibu yang datang lagi? Tulis di kolom komentar ya!