BREAKING NEWS

Inilah Kisah Cerita Seorang Ibu dan Anak

Ilustrasi ibu bermata satu
Sumber: backgorundcheckall.com

Aku mempunyai ibu yang hanya memiliki satu mata. Aku membencinya; menurutku ia memalukan. Ibu memiliki toko kecil di pasar.

Ibu sering mengumpulkan barang bekas untuk dijual, apa pun akan ia lakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. Bagiku saat itu, ia memalukan.

Suatu hari di sekolah, ibu datang. Aku sangat malu. Aku tak menyangka ia melakukan itu padaku. Aku membuang muka dengan benci dan berlari.

Keesokan harinya di sekolah, teman-teman mengejek: “Ibumu bermata satu ya?”

Di rumah, aku berkata kasar: “Ibu, kenapa cuma punya satu mata? Ibu hanya jadi bahan tertawaan. Kenapa tidak mati saja?” Ibu diam. Ucapan itu melukai hatinya, meski saat itu aku merasa lega sudah mengungkapkannya.

Malamnya, aku ke dapur dan melihat ibu menangis pelan agar tak membangunkanku. Ada sesuatu yang mencubit hatiku, namun kebencianku tetap menang. Aku berjanji akan sukses agar tak lagi mengingat ibu yang bermata satu dan miskin.

Aku belajar keras, pindah ke Seoul, diterima di Universitas Seoul, menikah, membeli rumah, punya anak hidupku terasa sempurna, jauh dari bayang-bayang ibu.

Sampai suatu hari, seseorang muncul di depan rumah ibuku, masih dengan satu mata. Anakku lari ketakutan. Aku berkata, “Siapa kamu? Aku tak kenal!” Lalu mengusirnya. Ibu pelan menjawab, “Maaf, mungkin salah alamat,” lalu pergi.

Suatu hari undangan reuni datang. Setelah reuni, aku mampir ke rumah lama. Ibu tergeletak di lantai. Di tangannya ada sepucuk surat untukku.

Baca Juga: Kata Bijak Saat Menghadapi Masalah dengan Keluarga Agar Tetap Optimis

Surat untuk Anakku

Anakku, ibu merasa hidup ibu tak lama lagi. Ibu tak akan mengunjungimu di Seoul. Jika tak berlebihan, maukah sekali saja datang ke rumah? Ibu rindu.

Ibu minta maaf karena ibu hanya punya satu mata, yang membuatmu malu.

Kau mungkin tak tahu: saat kecil kau mengalami kecelakaan dan kehilangan satu mata. Ibu tak sanggup melihatmu tumbuh bermata satu. Maka ibu memberikan satu mata ibu untukmu. Ibu bangga, karena dengan mata itu kau bisa melihat dunia yang baru untuk ibu.

Ibu tak pernah marah atas apa pun yang kau lakukan. Saat kau marah, ibu berpikir itu karena kau mencintai ibu. Ibu rindu masa kecilmu.

Aku mencintaimu. Kau bagian dari hidupku. Kau duniaku.